Wajibnya kembali kepada sahabat dalam memahami Islam
Aku berkata:“Ini alasan kalian yang pertama.Lalu apa lagi?”
Mereka menjawab:“Ya.”
Jauh dari jalan sahabat Rasulullah dalam
memahami Al-Kitab dan As-Sunnah, adalah pertanda kesesatan dan alamat
kebinasaan.Dalam sebuah wasiatnya yang agung, Rasulullah
mewanti-wanti umat ini agar selalu berjalan di atas jalan mereka yang
lurus. Beliau bersabda:
فَإِنَّهُ مَنْ
يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي
وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ تَمَسَّكُوا بِهَا
وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ
“Maka sungguh, siapa yang hidup di
antara kalian akan menyaksikan perselisihan yang banyak, maka wajib atas
kalian mengikuti sunnahku dan sunnah Al-Khulafa yang mendapat bimbingan
dan petunjuk, pegang eratlah sunnah itu dan gigitlah dengan
geraham-geraham kalian.”[1]
Nasihat ini ternyata tidak dihiraukan
oleh orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya, kaum Khawarij
misalnya.Meski mereka orang yang rajin ibadah, tekun berzikir bahkan
jidat-jidat mereka hitam terluka karena banyaknya shalat malam, namun
tatkala jalan yang mereka tempuh bukan jalan sahabat Rasulullah
salaf (pendahulu) umat ini– mereka pun Allah sesatkan hingga terjerumus
dalam jurang kebinasaan. Demikianlah ketentuan Allah atas mereka yang
menentang Rasul dan meninggalkan jalan sahabat-sahabatnya.
“Dan barangsiapa menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin,
Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasinya itu
dan Kami masukkan ia ke dalam Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruk
tempat kembali.” (An-Nisa: 115)
Rentetan peristiwa tarikh adalah mata
rantai-mata rantai bersambung yang tak terpisahkan. Wafatnya Khalifah
Ar-Rasyid Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib dalam keadaan syahid
dan terzalimi adalah bagian dari akibat buruk pemahaman Khawarij yang
jauh dari sahabat Rasulullah.Mereka memang ahli baca Qur’an, bahkan
menghafalnya. Mereka ahli ibadah, bahkan di sebagian besar waktunya.
Namun ketika mereka telah tinggalkan sahabat dalam memahami wahyu Allah
mereka pun terjatuh dalam jurang kebinasaan.
Bukti kebodohan Khawarij dan jauhnya
mereka dari salaf umat ini terlalu banyak untuk disebutkan.Cukuplah
dalam lembar berikut kita simak dialog mereka bersama Ibnu Abbas putra
paman Rasulullah habrul ummah (ulama umat ini).Dalam dialog
tersebut kita bisa menyimak sejauh mana mereka menyimpang dari jalan
sahabat dan bagaimana mereka lebih mengedepankan ra’yu (logika) dan perasaan ketimbang jalan lurus yang telah Rasulullah gariskan.
Kita tinggalkan Abul Faraj Ibnul Jauzi meriwayatkan dialog tersebut dalam bukunya,Talbis Iblis,dengan sanadnya hingga Abdullah bin ‘Abbas bin Abdul Muththalib
Cermin kebodohan Khawarij dalam memahami agama
Ibnu ‘Abbas berkata:“Orang-orang Khawarij
memisahkan diri dari Ali berkumpul di satu daerah untuk keluar dari
ketaatan (memberontak) kepada khalifah. Mereka ketika itu berjumlah enam
ribu orang.
Semenjak Khawarij berkumpul, tidaklah ada
seorang yang mengunjungi Ali melainkan dia berkata mengingatkan beliau
“Wahai Amirul Mukminin,mereka kaum Khawarij telah berkumpul untuk
memerangimu.”
Beliau menjawab:“Biarkan mereka, aku tidak akan memerangi mereka hingga mereka memerangiku,dan sungguh mereka akan melakukannya.”
Hingga di suatu hari yang terik, saat
masuk waktu dhuhur aku menjumpai Ali Aku berkata:“Wahai Amirul Mukminin,
tunggulah cuaca dingin untuk shalat dhuhur,sepertinya aku akan
mendatangi mereka (Khawarij) berdialog.”
‘Ali bin Abi Thalib berkata: “Wahai Ibnu Abbas,sungguh aku mengkhawatirkanmu!”
Ibnu Abbas “Wahai Amirul
Mukminin,janganlah kau khawatirkan diriku.Aku bukanlah orang yang
berakhlak buruk dan aku tidak pernah menyakiti seorang pun.” Maka Ali
mengizinkanku.
“Jubah terbaik dari Yaman segera
kupakai,kurapikan rambutku,dan kulangkahkan kaki ini hingga masuk di
barisan mereka di tengah siang.”
Ibnu Abbas
berkata: “Sungguh aku dapati diriku masuk di tengah kaum yang belum
pernah sama sekali kujumpai satu kaum yang sangat bersemangat dalam
ibadah seperti mereka.Dahi-dahi penuh luka bekas sujud, tangan-tangan
menebal bak lutut-lutut unta. Wajah-wajah mereka pusat pasi karena tidak
tidur,menghabiskan malam untuk beribadah.”
Kuucapkan salam pada mereka.Serempak mereka menyambutku: “Marhaban,wahai Ibnu ‘Abbas.Apa gerangan yang membawamu kemari?”
Aku berkata:“Sungguh aku datang pada
kalian dari sisi sahabat Muhajirin dan sahabat Anshar,juga dari sisi
menantu Rasulullah n,[2] yang kepada merekalah Al-Qur’an diturunkan dan merekalah orang-orang yang paling mengerti makna Al-Qur’an daripada kalian.”
Pembaca rahimakumullah,sebelum
kita lanjutkan penuturan Ibnul Jauzi,perhatikan sejenak jawaban Ibnu
‘Abbas yang sarat makna dan penuh keindahan. Kata-kata itu sesungguhnya
mutiara yang sangat berharga, yang mengingatkan akan kedudukan sahabat
Muhajirin dan Anshar sekaligus nasihat bagaimana seharusnya prinsip
seorang muslim dalam memahami Al-Kitab dan As-Sunnah yaitu:mengembalikan
kepada pemahaman sahabat yang kepada merekalah Al-Qur’an diturunkan,
dan merekalah orang yang paling mengerti Al-Kitab dan As-Sunnah. Dalam
jawaban ini, beliau juga ingin tegaskan besarnya kedudukan Ali bin Abi
Thalib di sisi Allah sebagai menantu Rasulullah Mungkin dengan ini
mereka menyadari kesesatan yang mereka berada di atasnya dan segera
bertaubat untuk tidak memerangi Ali
Begitu mendengar ucapan Ibnu Abbas yang
penuh makna dan merupakan prinsip hidup –yang tentunya tidak mereka
sukai karena menyelisihi prinsip sesat mereka–, berkatalah sebagian
Khawarij memberi peringatan: “Jangan sekali-kali kalian berdebat dengan
seorang Quraisy (yakni Ibnu ‘Abbas pen.). Sesungguhnya Allah berfirman:
“Sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar.” (Az-Zukhruf: 58)
Betapa bodohnya mereka gunakan ayat ini
untuk mencela Ibnu Abbas,padahal beliau lebih mengerti
Al-Qur’an,sebagaimana Rasulullah berdoa untuknya:“Ya Allah,faqihkan ia dalam agama dan ajarkanlah ia tafsir.”
Ibnul Jauzi kembali melanjutkan riwayat
kisah ini: Berkata dua atau tiga orang dari mereka: “Biarlah kami yang
akan mendebatnya!”.
Aku
berkata:“Wahai kaum, datangkan untukku alasan,mengapa kalian membenci
menantu Rasulullah n beserta sahabat Muhajirin dan Anshar, padahal
kepada merekalah Al-Qur’an diturunkan, Tidak ada pula seorang pun dari sahabat yang bersama kalian,dan ia (Ali adalah orang) yang paling mengerti dengan tafsir Al-Qur’an?”
Mereka berkata: “Kami punya tiga alasan.”
Aku berkata: “Sebutkan (tiga alasan kalian).”
Mereka berkata: “Pertama: Sungguh dia telah jadikan manusia sebagai hakim (pemutus perkara) dalam urusan Allah padahal Allah l berfirman:
“…Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah...” (Yusuf: 40)
Hukum manusia tidak ada artinya di hadapan firman Allah l.[3]Aku berkata:“Ini alasan kalian yang pertama.Lalu apa lagi?”
Mereka berkata: “Adapun yang kedua,
sesungguhnya dia telah berperang dan membunuh[4] tapi kenapa tidak mau
menawan dan mengambil ghanimah? Kalau mereka (Aisyah dan barisannya) itu
mukmin tentu tidak halal bagi kita memerangi dan membunuh mereka. Tidak
halal pula tawanan-tawanannya.”
Ibnu Abbas berkata: “Lalu apa alasan kalian yang ketiga?”
Mereka berkata: “Ketiga: Dia telah hapus sebutan Amirul Mukminin dari dirinya. Kalau dia bukan amirul mukminin (karena menghapus sebutan itu) berarti dia adalah amirul kafirin(pemimpin orang-orang kafir).”
Ibnu ‘Abbas berkata: “Adakah pada kalian alasan selain ini?” Mereka berkata: “Cukup sudah bagi kami tiga perkara ini!”
Bantahan Ibnu ‘Abbas atas kebodohan Khawarij
Pembaca rahimakumullah, lihatlah
bagaimana Khawarij bermudah-mudah mengambil vonis kafir,dan mengambil
sikap memberontak bahkan kepada khalifah Ar-Rasyid yang penuh keutamaan
dan kemuliaan. Alasan-alasan mereka adalah syubhat yang sangat lemah dan
menunjukkan kebodohan mereka dalam memahami Al-Kitab dan As-Sunnah
serta an jauhnya mereka dari pemahaman sahabat.
Selanjutnya,mari kita simak bagaimana Ibnu Abbas mendudukkan syubhat-syubhat tersebut.
Ibnu ‘Abbas
berkata: “Ucapan kalian bahwa Ali telah menggunakan manusia dalam
memutuskan perkara (untuk mendamaikan persengketaan antara kaum muslimin
-pen), sebagai jawabannya akan kubacakan ayat yang membatalkan syubhat
kalian. Jika ucapan kalian terbantah,maukah kalian kembali (kepada jalan
yang benar)?”
Mereka berkata: “Ya,tentu kami akan kembali.”
Ibnu ‘Abbas berkata: “Ketahuilah,
sesungguhnya Allah telah menyerahkan di antara hukum-Nya kepada hukum
(keputusan) manusia, seperti dalam menentukan harga kelinci (sebagai
tebusan atas kelinci yang dibunuh saat ihram[5].) Allah berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman,
janganlah kamu membunuh binatang buruan, ketika kamu sedang ihram.
Barangsiapa di antara kamu membunuhnya dengan sengaja, maka dendanya
ialah mengganti dengan binatang ternak seimbang dengan buruan yang
dibunuhnya, menurut putusan (hukum) dua orang yang adil di antara kamu, sebagai
hadyu yang dibawa sampai ke Ka’bah, atau (dendanya) membayar kafarat
dengan memberi makan orang-orang miskin, atau berpuasa seimbang dengan
makanan yang dikeluarkan itu, supaya dia merasakan akibat buruk dari
perbuatannya. Allah telah memaafkan apa yang telah lalu. Dan barangsiapa
yang kembali mengerjakannya,niscaya Allah akan menyiksanya. Allah Maha
Kuasa lagi mempunyai (kekuasaan untuk) menyiksa.” (Al-Maidah: 95)
Demikian pula dalam perkara perempuan dan
suaminya yang bersengketa, Allah juga menyerahkan hukumnya kepada hukum
(keputusan) manusia untuk mendamaikan antara keduanya.Allah berfirman:
“Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. Jika
kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah
memberi taufik kepada suami-istri itu. Sesungguhnya Allah Maha
mengetahui lagi Maha mengenal.” (An-Nisa: 35)
Maka demi Allah jawablah oleh kalian.
Apakah diutusnya seorang manusia untuk mendamaikan hubungan mereka dan
mencegah pertumpahan darah di antara mereka[6] lebih pantas untuk
dilakukan, atau hukum manusia perihal darah seekor kelinci dan urusan
pernikahan wanita? Menurut kalian manakah yang lebih pantas?”
Mereka katakan:“Bahkan inilah (yakni mengutus manusia untuk mendamaikan manusia dari pertumpahan darah) yang lebih pantas.”
Ibnu ‘Abbas berkata: “Apakah kalian telah keluar dari masalah pertama?” Mereka berkata: “Ya.”
Ibnu Abbas melanjutkan: “Adapun
ucapan kalian bahwa Ali telah memerangi tapi tidak mau
mengambil ghanimah dari yang diperangi dan tidak menjadikan mereka
sebagai tawanan, sungguh (dalam alasan kedua ini) kalian telah mencerca
ibu kalian (yakni Aisyah). [7]
Demi Allah Kalau kalian katakan bahwa
Aisyah bukan ibu kita (yakni kafir), kalian sungguh telah keluar dari
Islam (karena mengingkari firman Allah). Demikian pula kalau kalian
menjadikan Aisyah sebagai tawanan perang dan menganggapnya halal
sebagaimana tawanan lainnya (sebagaimana layaknya orang-orang
kafir),maka kalianpun keluar dari Islam. Sesungguhnya kalian berada di
antara dua kesesatan,karena Allah berfirman:
“Nabi itu lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri dan istri-istrinya adalah ibu-ibu mereka.” (Al-Ahzab: 6)
Ibnu Abbas berkata: “Apakah kalian telah keluar dari masalah ini?”Mereka menjawab:“Ya.”
Ibnu Abbas berkata lagi: “Adapun ucapan kalian bahwasanya Ali telah menghapus sebutan Amirul Mukminin dari
dirinya, maka (sebagai jawabannya) aku akan kisahkan kepada kalian
tentang seorang yang kalian ridhai, yaitu Rasulullah.Ketahuilah,
bahwasanya beliau di hari Hudaibiyah (6 H) melakukan shulh (perjanjian damai) dengan orang-orang musyrikin, Abu Sufyan dan Suhail bin ‘Amr.Tahukah kalian apa yang terjadi?
Ketika itu Rasulullah bersabda kepada Ali:“Wahai Ali, tulislah perjanjian untuk mereka.” Ali menulis: “Inilah perjanjian antara Muhammad Rasulullah…”
Segera orang-orang musyrik berkata: “Demi
Allah! Kami tidak tahu kalau engkau rasul Allah Kalau kami mengakui
engkau sebagai rasul Allah tentu kami tidak akan memerangimu.”
Rasulullah bersabda: “Ya Allah sungguh
engkau mengetahui bahwa aku adalah Rasulullah.Wahai Ali tulislah:Ini
adalah perjanjian antara Muhammad bin Abdilah…’.” (Rasulullah memerintahkan Ali untukmenghapus sebutan Rasulullah dalam perjanjian, pen.)
Ibnu Abbas berkata: “Demi Allah sungguh
Rasulullah lebih mulia dari Ali.Meskipun demikian, beliau menghapuskan
sebutan Rasulullah dalam perjanjian Hudaibiyah…”
(Apakah dengan perintah Rasul menghapuskan kata Rasulullah dalam
perjanjian kemudian kalian mengingkari kerasulan beliau? Sebagaimana
kalian ingkari keislaman Ali karena menghapus sebutan Amirul Mukminin?)
Ibnu Abbas berkata: “Maka kembalilah dua
ribu orang dari mereka, sementara lainnya tetap memberontak (dan berada
di atas kesesatan), hingga mereka diperangi dalam sebuah peperangan
besar (yakni perang Nahrawan).”[8]
Demikian tiga syubhat Khawarij yang
mereka jadikan sebagai alasan memberontak dan memerangi Ali.Semua
syubhat tersebut terbantah dalam dialog mereka dengan Ibnu ‘Abbas .Maka selamatlah mereka yang mau mendengar sahabat dan menjadikan mereka sebagai rujukan dalam memahami Al-Kitab dan As-Sunnah.Sedangkan mereka yang tidak mau kembali pada sahabat Rasulullah tetap dalam kebinasaan.
Hingga terjadilah pertempuran Nahrawan.Fitnah pun berlanjut dan terjadilah pembunuhan Khalifah Ar-Rasyid Ali bin Abi Thalib.
[1] HR. Abu Dawud no. 4607 dan At-Tirmidzi no. 2676.
[2] Yakni Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib
[3] Maksud mereka: Kenapa Ali melakukan tahkim (berhukum)
dengan keputusan Abu Musa Al-Asy’ari dari pihak beliau dan ‘Amr bin
Al-Ash dari pihak Mu’awiyah bin Abi Sufyan z untuk melakukan shulh (perdamaian), demi menjaga darah-darah muslimin setelah sebelumnya terjadi perang Shiffin di bulan Shafar tahun 37 H.
[4] Yaitu perang Jamal tahun 36 H.Perang
antara barisan ‘Ali bin Abi Thalib dan barisan AisyahHal yang harus
diketahui tentang perang Jamal,bahwasanya dalam perang tersebut sama
sekali Ali bin Abi Thalib maupun Aisyah tidak menginginkan adanya
peperangan.Yang terjadi adalah keinginan Aisyah untuk melakukan ishlah (perbaikan
hubungan) antara dua barisan kaum muslimin. Berangkatlah Aisyah menuju
Bashrah bersama Thalhah,Az-Zubair dan sejumlah kaum muslimin dengan
tujuan ishlah.Perdamaian pun terjadi di antara kedua belah
pihak. Namun para penyulut fitnah tidak tinggal diam dengan ketenangan
dan perdamaian yang terwujud. Mereka melakukan makar dengan memunculkan
penyerangan dari dua kubu sekaligus. Maka Ali menyangka beliau diserang,
sehingga harus membela diri.Demikian pula Aisyah menyangka diserang
sehingga harus membela diri, hingga terjadilah peperangan yang
sesungguhnya tidak diinginkan.Yang harus diketahui pula, bahwasanya
tidak ada seorang sahabat pun yang ikut dalam fitnah tersebut. (Lihat Tasdid Al-Ishabah Fima Syajara Bainash-Shahabah, oleh Dziyab bin Sa’d Al-Ghamidi)
[5] Haji atau ‘umrah.
[6] Sebagaimana dilakukan Ali bin Abi Thalib mengirim Abu Musa Al-Asy’ari untuk menghentikan perang Shiffin.
[7] Karena konsekuensinya adalah
menjadikan Aisyah x sebagai tawanan perang, budak yang boleh dinikahi,
padahal beliau adalah Ummul Mukminin yang haram bagi siapapun menikahi
beliau sesudah wafatnya Rasulullah
[8] Talbis Iblis Ibnul Jauzi dengan beberapa perubahan
sumber:http://asysyariah.com/dialog-ibnu-abbas-dengan-kaum-khawarij.html
0 komentar
Posting Komentar
Silahkan Berkomentar Disini !!! :)
Tambahkan Nama Anda Di Bawah Komentar Anda !!!